October 25, 2026

Mirna

Oleh: Hana Widya Saraswati Memasuki tahun pertama kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, ada gelagat positif yang makin nyata di tanah air: kesejahteraan petani makindiperhatikan, dan target swasembada pangan bukan sekadar angin lalu, tapi mulai terlihatwujudnya di berbagai wilayah. Dari Sabang sampai Merauke, lahan pertanian tidak cuma dijagaproduktivitasnya, tetapi juga diarahkan agar lebih mandiri secara produksi, lebih modern dalampengelolaan, dan lebih adil di distribusi hasilnya. Salah satu indikator paling menonjol adalah produksi beras nasional. Menteri KoordinatorBidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan mengatakan bahwa Indonesia telah berhasilmencapai swasembada di sektor beras. Produksi beras dari Januari sampai November 2025 diperkirakan mencapai sekitar 33,19 juta ton, meningkat sekitar 12,62 persen dibanding periodeyang sama tahun sebelumnya. Surplus yang diperoleh—diperkirakan 4 sampai 5 juta ton—tidakhanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi memberi ruang bagi stabilitas pasokan dan harga.  Stok beras nasional yang sekarang tercatat di atas 4 juta ton menunjukkan angka tertinggi dalamsejarah Republik ini.  Tak kalah penting, langkah‐langkah sistemik yang diambil pemerintah dalam memperkuatfondasi pertanian turut mengangkat derajat petani. Distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada petani, perbaikan sistem irigasi, distribusi pupuk yang lebih lancar, serta regulasi yang disederhanakan menjadi bagian dari paket kebijakan yang memberi dampak langsung bagi sawahdan ladang di berbagai daerah. Kebijakan‐kebijakan tersebut bukan saja mempermudah proses produksi, tapi juga menekan biaya produksi dan risiko kegagalan panen akibat kendala teknisdan iklim. Swasembada pangan tidak hanya diukur dari beras saja. Pemerintah menegaskan bahwa selainberas, komoditas lain seperti jagung dan gula konsumsi juga menunjukkan tren produksi yang menggembirakan.  Misalnya, program‐program ekstensifikasi lahan dan optimalisasi lahan tidurserta pembentukan kawasan pangan menjadi faktor penopang bahwa pasokan pangan tidak lagiterpusat di wilayah—tetapi mulai merata ke daerah‐daerah yang sebelumnya kurangdioptimalkan.  Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaimanmengatakan swasembada pangan kini mulai terwujud setelah beberapa pulau yang sebelumnyabergantung pasokan antarwilayah, kini sudah mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiriseperti wilayah Kalimantan yang dulunya mendatangkan beras dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, kini telah berhasil mencapai swasembada beras. Di sisi kesejahteraan petani, keberpihakan tampak jelas. Peningkatan harga pembelianpemerintah (HPP) untuk gabah kering panen, perbaikan sarana produksi seperti irigasi danpupuk, perbaikan regulasi agar tidak menyulitkan petani, serta pemangkasan perantara yang selama ini memang menjadi salah satu hambatan dalam memperoleh hasil yang adil bagi petani....
Oleh: Najib M. Anwar (* Dalam satu tahun pelaksanaannya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) di era pemerintahan Prabowo–Gibran menunjukkan arah kebijakan yang tidak hanya berpihak padapeningkatan gizi masyarakat, tetapi juga memastikan seluruh rantai penyediaan makananberjalan sesuai standar kesehatan, kebersihan, dan kehalalan. Sinergi lintas kementerian danlembaga menjadi fondasi kuat untuk menjamin kualitas gizi sekaligus menjaga kepercayaanpublik terhadap penyelenggaraan program ini. Program MBG dirancang bukan sekadar penyediaan makanan gratis, tetapi sebagai investasijangka panjang untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, produktif, dan berdayasaing global. Pemerintah memandang gizi sebagai pilar utama pembangunan manusia, danhal itu diperkuat melalui koordinasi erat antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan BadanPenyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, menjelaskan bahwa pihaknya bersama BGN tengah mempersiapkan pelatihan penyelia halal bagi seluruh dapur pelaksana program MBG. Pelatihan tersebut dilakukan melalui kerja samadengan Lembaga Pelatihan Jaminan Produk Halal (LPJPH), baik dari lembaga pelatihan kerjamaupun perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Ia menilai bahwa keberadaan penyelia halal...
Oleh: Sjaichul Anwari)* Dalam satu tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sektor energi telah menjadi fokus utama. Sejumlah kebijakan yang substansial mengalami pergeseran fokus demi meletakkantekas kemandirian energi yang kokoh. Visi yang diusung oleh Prabowo-Gibran jelas: Indonesia harus mampu mengelolasumber daya alamnya sendiri, mengurangi ketergantungan impor, dan menjaminketersediaan energi yang stabil bagi seluruh lapisan masyarakat. Langkah-langkahawal telah menunjukkan momentum positif, terutama dalam upaya mempercepatproyek-proyek infrastruktur energi strategis nasional.  Arah kebijakan ini dinilai berada pada jalur yang tepat untuk mengamankankebutuhan energi jangka panjang negara. Salah satunya melalui kebijakan hilirisasidan optimalisasi sumber energi terbarukan (EBT). Koordinator Proyek Renewable Energy Integration Demonstrator Indonesia (REIDI) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary...
Oleh : Ricky Rinaldi Pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memasuki tahunpertamanya dengan fokus besar pada kemandirian energi nasional. Di tengahketidakpastian global, energi menjadi fondasi utama untuk menjaga stabilitasekonomi dan ketahanan negara. Pemerintah memandang swasembada energibukan sekadar peningkatan produksi, tetapi hasil dari kolaborasi menyeluruh antaranegara, dunia usaha, dan masyarakat. Semangat kolaboratif ini menjadi ciri khaspemerintahan baru yang menekankan kerja nyata dan sinergi lintas sektor. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia harus berdiri di ataskekuatan sendiri dalam hal energi. Ia menilai kemandirian energi adalah bagian darikedaulatan nasional yang tidak dapat ditawar. Pemerintah menempuh strategiganda: memperkuat eksplorasi sumber daya alam domestik sekaligus mempercepatpengembangan energi baru terbarukan. Langkah ini menggambarkan keseimbanganantara kebutuhan ekonomi jangka pendek dan visi berkelanjutan jangka panjang. Prabowo melihat keberhasilan energi nasional hanya bisa dicapai denganmenyatukan potensi seluruh elemen bangsa. Langkah konkret terlihat melalui percepatan proyek strategis nasional. Pemerintahmempercepat pembangunan kilang minyak, jaringan gas, dan infrastruktur energi di daerah terpencil untuk menjamin pemerataan akses. Bagi Prabowo, kemandirianenergi adalah bentuk nyata dari pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Iamenekankan bahwa swasembada bukan hanya tujuan ekonomi, tetapi juga simbolkemandirian bangsa yang mampu berdiri tegak di tengah tekanan global. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memandang transformasi energi harusditopang inovasi dan partisipasi generasi muda. Ia menilai kreativitas anak bangsadan teknologi hijau menjadi pilar utama masa depan energi nasional. Pemerintahmendorong lahirnya startup energi dan kolaborasi riset universitas dalammenciptakan solusi efisien dan ramah lingkungan. Pendekatan ini menandaiperubahan paradigma pembangunan dari eksploitasi sumber daya alam menujupemanfaatan teknologi dan inovasi. Koordinasi lintas sektor diperkuat antara Kementerian ESDM, BUMN, danpemerintah daerah untuk memastikan nilai tambah energi dinikmati masyarakat. Hilirisasi industri menjadi fokus utama agar hasil produksi tidak diekspor mentah, tetapi diolah di dalam negeri guna membuka lapangan kerja dan memperkuatekonomi lokal. Dengan pendekatan kolaboratif, rantai pasok energi nasional mulaiterbentuk dari hulu hingga hilir secara terpadu. Dari sisi ekonomi, hasil awal terlihat nyata. Investasi energi meningkat signifikansepanjang 2025, terutama di sektor energi baru terbarukan seperti bioetanol, tenagasurya, dan panas bumi. Ribuan tenaga kerja terserap, kawasan industri energi mulaitumbuh, dan perekonomian daerah bergerak lebih dinamis. Kondisi ini menunjukkanbahwa semangat kolaboratif pemerintah berhasil mendorong kemandirian energisekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional. Stabilitas politik dan arahkebijakan yang jelas menumbuhkan kepercayaan investor terhadap prospek energiIndonesia. Secara geopolitik, strategi energi juga memperkuat posisi Indonesia di tingkat global. Pemerintah aktif membangun kemitraan dengan negara maju seperti Jepang, Norwegia, dan Uni Emirat Arab dalam pengembangan teknologi energi bersih. Kerjasama tersebut tidak mengurangi kemandirian, tetapi justru memperluas aksesteknologi dan memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa swasembada energi bukan berarti menutup diri, melainkan mengedepankan kemitraan yang saling menguntungkan. Presiden Prabowo Subianto menilai keberhasilan menuju swasembada energimembutuhkan disiplin nasional dan konsistensi kebijakan. Pemerintah menjalankanprogram transisi energi dengan mendorong penggunaan listrik untuk transportasidan rumah tangga. Insentif diberikan kepada industri yang beralih ke energi bersihmelalui keringanan pajak dan skema pembiayaan hijau. Kebijakan ini menunjukkanbahwa transformasi energi di bawah kepemimpinannya tidak berhenti pada konsep, tetapi diwujudkan melalui langkah nyata. Wapres Gibran menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjagakeberlanjutan energi. Menurutnya, perubahan gaya hidup menuju efisiensi harusdimulai dari kesadaran individu dan komunitas lokal. Pemerintah melibatkanmasyarakat dalam proyek energi desa seperti PLTS atap dan biodiesel skala kecil. Program ini tidak hanya memperluas akses energi, tetapi juga menumbuhkankemandirian masyarakat sebagai bagian dari transisi energi nasional. Kebijakan tahun pertama menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif berhasilmemperkuat fondasi menuju swasembada energi. Pemerintah tidak hanya fokuspada produksi, tetapi juga membangun tata kelola yang transparan, partisipatif, danberorientasi hasil. Dengan sinergi antara negara, swasta, dan masyarakat, arahpembangunan energi nasional kini semakin jelas dan berkelanjutan. Indonesia mulaimenapaki era baru energi yang berbasis inovasi, teknologi, dan gotong...